Belajar Berbisnis Online & Trading Online di Internet

Tempat Belajar Bisnis Online di Internet Bagi Karyawan

Archive for Juli, 2007

BCA Off Line, Nasabah banyak yang panik…

Posted by Aji Monoarfa pada Juli 21, 2007

Malam itu, tanggal 20 Juli 2007 sekitar jam 08.00, terlihat beberapa nasabah BCA sedang antri di salah satu ATM Mini Market di Jl. Raya Hankam, diantaranya adalah saya sendiri berada dalam antrian ke 5 menuju mesin cerdas bernama ATM. Saat memasuki barisan saya tidak menghitung berada di antrian yang ke berapa, tapi beberapa menit kemudian saya mulai menghitung, karena tersadarkan dengan antrian yang tidak maju-maju juga, padahal saya harus segera untuk membayar tagihan kartu kredit yang jatuh temponya adalah hari ini.

Beberapa nasabah yang antri di depan saya ada yang berhasil melakukan transaksi ada juga yang tidak, seorang ibu menggerutu “kok ga bisa transfer ya…? Tapi ambil uang bisa…!!!”. Mendengar itu saya mulai sedikit panik karena teringat tagihan beban bunga yang akan dikenakan Citibank kalau pembayaranya lewat jatuh tempo, padahal dana untuk pembayaran hanya tersedia di BCA saja, ,meskipun ada Bank lain yang juga dapat bertransaksi secara on line untuk pembayaran tagihan kartu kredit. Tapi masalahnya dananya kurang.

Akhirnya giliran saya untuk melakukan transaksi, dan seperti biasa saya memasukan PIN kemudian memilih pembayaran tagihan kartu kredit Citibank selanjutnya memasukan no. kartu dan nominal pembayaran, namun ketika saya tekan konfirmasi pembayaran muncul pesan ” Transaksi Anda Tidak Dapat diproses”. Khawatir terkena beban bunga saya lakukan sekali lagi, dan untuk kedua kalinya pesan tersebut muncul kembali.

Selanjutnya saya putuskan untuk mencari ATM BCA lain. Ada satu ATM di daerah kandang ayam (nama daerah aneh juga ya…mungkin dulu banyak pengusaha kanda ayam kali ya…!!!), saat masuk ruang ATM tersebut yang muncul di layar adalah angka “001” di sudut kiri atas sepertinya pertanda si mesin cerdas ini lagi “malas mikir”…hang ….!!!.. Akhirnya saya pergi ke Pondok Gede.

Dilokasi ini ada sekitar 6 ATM ditambah 1 ATM untuk transaksi Non Tunai, namun yang berfungsi hanya 2 saja, sedangkan yang lain muncul pesan ” Sementara ini, ATM ini tidak dapat digunakan untuk bertransaksi” dan akhirnya saya putuskan menggunakan ATM Non Tunai karena antriannya tidak terlalu banyak (Jangan2 nasabah BCA masih ada yang ga ngerti pake Touch Screen di ATM Non Tunai ya…)

Sesaat setelah kartu masuk saya cek saldonya ternyata dana di rekening tersebut sudah berkurang sejumlah transaksi yang saya lakukan di ATM sebelumnya. Dengan penuh rasa kaget saya telpon istri saya di rumah untuk menghubungi Halo BCA (ini rekening punya istri….J), karena tidak sabar menunggu kabarnya saya juga menelpon Halo BCA dengan menjelaskan permasalahannya dan menjelaskan bahwa saya bertransaksi menggunakan ATM istri. Saya diterima oleh seorang operator bernama MARKO (yes… Bapak Marko). Dari Pak Marko saya menerima penjelasan bahwa memang saat ini sedang terjadi masalah diseluruh jaringan BCA sehingga tidak bisa memeriksa transaksi saya …apakah memang bermasalah atau tidak.

Anehnya, pada waktu yang tidak jauh berbeda istri saya dari rumah juga menelpon juga ke Halo BCA dengan no. yang sama 021-52 999 888 dan diterima oleh Bapak Timothy dan saya mendengarkan pembicaraan mereka melalui telpon yang satu lagi. Jadi sambil istri berbicara melalui telepon di rumah dengan Pak Timothy, saya juga menghubungi istri saya ke HP yang satu lagi mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Penjelasan dari Pak Timothy berbeda dengan penjelasan Pak Marko (padahal call center yang dihubungi no.nya sama), Pak Timothy mengatakan bahwa transaksi belum berhasil dilakukan (tidak ada transaksi), namun ketika istri saya menanyakan saldo terkahir, Pak Timothy mengatakan tidak bisa akses data.

Jadi bingung…!!!$^&(#)%#&*%???? Kok bisa2nya satu nomor call center bisa punya jawaban yang berbeda pada saat yang bersamaan (Pak Marko dan Pak Timohty harusnya ngobrol dulu kalau mau jawab pertanyaan hehehee….) Tapi yang pasti saya jadi punya kesan bahwa para operator tersebut suka ASBUN (Asal Bunyi) kalau jawab pertanyaan nasabah sekiranya sistem mereka sedang bermasalah. Jawaban Pak Marko meskipun singkat namun jelas dan tidak bertele-tele kalau ternyata data tidak bisa diakses dari pada Pak Timothy yang coba menjawab tapi malah bikin nasabah bingung.

Saran saya bagi BCA, sebaiknya dibuatkan pengumuman pada mesin ATM sekiranya ada masalah dengan salah satu layananya sehingga nasabah tidak terjebak pada transaksi yang bermasalah tersebut, misalnya pengumuman yang menyatakan “sementara ini hanya transaksi penarikan tunai yang dapat dilayani, sistem kami sedang dalam perbaikan khususnya masalah pembayaran dan pentransferan”. Nah dengan begini harapannya nasabah tidak merasa bingung karena terjebak pada transaksi sistem yang sedang bermasalah.

Tulisan ini ditujukan untuk memberikan masukan agar BCA sebuah Bank besar menjadi lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya.

Iklan

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

Why I am Special………..????

Posted by Aji Monoarfa pada Juli 9, 2007

Ternyata tulisan ini terlambat diposting ikutan kontesnya Mba Jennie, kelamaan nongkrong di draft tapi tidak apa-apa postingan tetap jalan di blog ini. Tetap Semangat.

Memang Gue Special (paling tidak buat diri sendiri)

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya ketika saya harus menulis dengan judul diatas, apa yang saya harus tulis, bagian mana dari diri saya yang bisa membuktikan kalau saya ternyata memang spesial. Menilai menjadi manusia, diri, teman, sahabat, anggota keluarga, ayah, suami yang spesial bukanlah perkara yang mudah, terlebih harus menilainya sendiri dengan me recall semua yang bisa membuktikan hal tersebut.

Saya coba memulai dengan merenungi, menelaah rangkaian kata tersebut lebih jauh hingga pada akhirnya terlintas dalam benak sebuah awal kehidupan seorang manusia bernama Aji Monoarfa yang dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja dan latar belakang ekonomi cukup untuk makan bulan ini, (saya masih bersyukur tidak masuk latar belakang ekonomi cukup untuk makan hari ini), namun ayah saya seorang pejuang bagi keluarga untuk menghidupi keluarga secara layak.

Awal kehidupan saya dimulai di alam rahim ketika bersama-sama ribuan bahkan jutaan calon manusia berlomba berenang menebus untuk membuahi sel ovum dan menuju sebuah ruang yang hangat, lembut, nyaman kemudian bermuara pada satu kantong rahim, tempat yang mebuai dan meninabobokan dengan segala jenis perbekalan selama kurang lebih 9 bulan dengan penuh rasa kasih sayang dan peluh yang tak ternilai harganya. Sampainya saya dikantung rahim ini merupakan suatu anugerah dari Allah SWT dan merasa pantas untuk dicatat sebagai sebuah prestasi memenangi lomba menembus sel ovum dalam ruang yang sangat gelap dengan kompetitor yang berjumlah ribuah bahkan jutaan. Untuk itu pantaslah jika saya menyandang predikat manusia yang LUAR BIASA, yang tidak menjadikan kendala semua ketidaktahuan arah mencapai kantung rahim bahkan dalam kegelapan yang juga pasti dialami juga oleh semua manusia didunia ini pada awal kehidupannya sebelum sampai di kantung rahim. Kemudian dibuai dalam alam rahim dan akhirnya dilahirkan di salah satu bagian dari pelosok dunia yang tidak tercantum dipeta pada waktu itu (sepertinya hingga saat ini).

Saya dilahirkan dalam keluarga besar dengan 3 kakak kandung dan 1 adik kandung, pandawa lima sebagaimana cerita dalam dunia wayang. Saat lulus SMA pada tahun 1996 dari sebuah sekolah di Bogor Timur, saya tidak memiliki wawasan dan keterampilan yang dapat saya gunakan sebagai bekal kerja. Saat itu kondisi perekonomian keluarga sudah tidak memungkinkan bagi saya untuk kuliah karena ayah saya sudah meninggal sejak tahun 1996 tepatnya saat saya duduk dikelas 3 SMA, sedangkan Ibu sebagai single parent tidak memiliki sumber pendapatan untuk menopang ekonomi keluarga, sehingga kami bertahan hidup dengan bekal uang pensiun dan jaminan kematian yang dari perusahaan tempat ayah bekerja.

Ada sebuah tawaran kursus bahasa inggris yan dibiayai oleh keluarga adik ayah yang sangat peduli dengan kehidupan saya dan keluarga, dan meminta saya tinggal dirumah orang tuanya untuk menemani dan menjaga mereka di masa senjanya. Tak ada kata tunggu, saya pun menerimanya dan memulai kursus hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan hingga tingkat IV (intermediate).

Ini menjadi pengalaman pertama hidup jauh dari orang tua dan menata kehidupan sendiri secara lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri, dan orang disekitar saya. Rutinitas kegiatan saya lebih banyak membantu tante untuk berdagang sembako di pasar sejak pagi hingga menjelang magrib (sekitar jam 6 sore), setelah sebelumnya berberes rumah. Namun jika ada jadwal kursus saya membantu hanya hingga jam 2an karena jam 3 saya harus sudah berangkat menuju kampus di daerah kampung melayu. Untuk menambah uang saku, pulang dari kampus saya tidak langsung pulang, namun mampir ke sebuah pub di simpang permai untuk menjaga mobil pengunjung (markir bo…) di pub dan rumah makan cotto makassar.

Kerasnya hidup di kota TP ini, membentuk saya menjadi seorang yang tangguh dan kuat secara mental menghadapi keterpurukan yang amat sangat, kehilangan teman untuk berbagi dan juga tempat tinggal yang menjadi tempat bernaung selama di Jakarta. Namun kondisi ini tidak menyurutkan saya untuk tetap bisa berangkat ke kampus agar bisa menyelesaikan proses belajar hingga ke tingat 6 (advance), meskipun dengan biaya sendiri yang saya peroleh dengan menjual narkoba (niat untuk menyelesaikan kursus ini membutakan mata hati saya ….) hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti pada tingkat 5 dengan alasan biaya (hikmahnya saya tidak menjual narkoba lagi……Ironis memang).

Kembali ke rumah membuat saya merasa home sweet home. Saya menganggur sekitar 6 bulanan. Selama proses mencari kerja lebih banyak waktu saya gunakan untuk berlatih menggunakan spreassheet dengan spesifikasi komputer 386, memori 8 Mb sistem operasi windows 3.11 (kunoooo abis….). Mengingat tidak punya uang untuk membeli buku latihan spreadsheet, pilihannya adalah meminjam pada seorang teman yang memiliki buku komputer cukup lengkap, modal saya hanyalah pergaulan dan beberapa batang rokok untuk “nyogok” (baca bertamu, ujung2nya pinjam buku).

Disana saya mulai mengenal buku-buku lain tentang pengembangan diri dan motivasi, “How to win people” nya Dale Carnegie misalnya, namun saat saya belum begitu aware mengenai hal ini hingga pada akhirnya saya pun “rakus” membaca jenis buku ini saat menjelang tidur. Dan akhirnya ketemu buku Mba Jenni, meskipun ini hanya sebuah buku namun memberi dampak besar terhadap perubahan pola pikir saya sebagai bahan belajar merubah mindset. Selain itu yang mendorong ingin segera melahap buku ini adalah merasa lebih dekat dengan berkomunikasi dengan penulisnya.

Memang buku ini tidak bisa merubah pola pikir siapapun kecuali pola pikir orang itu ingin berubah dengan mempraktekannya. Eh…kok jadi ngomongin buku (….habis masih ada juga yang komentar negatif atas itikad baik penerbitan buku ini…*%*%^&$%!!!????).

Kembali ke “Laptob”…….

Lintasan memori diatas menjadi dasar bagi saya untuk bangkit kembali saat down dihantam segala kendala dalam hidup bahkan hingga pada titik terendah “dipandang” menjadi sampah masyarakat (mungkin mereka hanya melihat sisi luar kalau aku pengangguran tanpa tau apa aktivitas diluar). Gini-gini saya pernah ngajar taekwondo di beberapa unit SD di kota TP lho…!!!!

Alhamdullilah, saat ini saya sudah bekerja disalah satu perusahaan yang cukup besar dan hidup besama seorang istri cantik berjilbab dan seorang anak yang cerdas, setidaknya perkembangan motoriknya lebih baik dibandingkan anak-anak seumurnya.

Terimakasih Tuhan… ternyata kesulitan, cobaan yang pernah ku alami sebelumnya telah mendidik aku lebih bersyukur, tabah untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Terimakasih untuk para pengunjung pub eldorado untuk tips parkirnya dan selamat tinggal “barang haram” dan Simpang Jalan Permai dan Enim… (waduh kok kayanya mataku jadi basah ya…)

Posted in Pribadi | 4 Comments »

Makna Di Balik Pekerjaan Anda

Posted by Aji Monoarfa pada Juli 6, 2007

Ditulis Oleh : James Gwee

Beberapa waktu yang lalu saya memberikan pelatihan mengenai sikap kerja di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Salah satu peserta pelatihan adalah Pak Lim, seorang pria berusia 60 tahunan yang bekerja di hotel tersebut. Bagi saya pekerjaan sehari-hari Pak Lim sangatlah monoton dan membosankan. Setiap hari, dengan membawa sebuah daftar, dia mengecek engsel pintu setiap kamar hotel.

Saya akan menceritakan sedikit bagaimana tugas Pak Lim sebenarnya. Pak Lim memulai rangkaian tugasnya dengan mengecek engsel pintu pintu kamar 1001 dan memastikan bahwa engsel dan fungsi kunci pintu berfungsi dengan baik. Pengecekan yang dilakukannya bukanlah pengecekan “seadanya”, namun pengecekan yang saksama di setiap engsel dan memastikan bahwa setiap pintu bisa dibuka-tutup tanpa masalah.

Untuk mengecek satu pintu saja, Pak Lim berulang kali membuka dan menutup pintu tersebut hanya untuk memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik. Barulah setelah puas, dia memberi paraf pada daftar yang dibawanya dan mengecek pintu kamar berikutnya, kamar 1002, dia melakukan hal yang sama, begitu seterusnya. Dalam sehari, Pak Lim bisa mengecek pintu 30 kamar.

Anda tentu bertanya, berapa hari waktu yang dibutuhkan Pak Lim untuk mengecek pintu semua kamar di hotel itu. kurang lebih sebulan! Tidak mengejutkan sebenarnya karena hotel berbintang lima ini memiliki sekitar 600 kamar. Tugas pengecekan Pak Lim dapat diibaratkan sebagai lingkaran. setelah pintu kamar terakhir selesai dicek, Pak Lim akan kembali lagi ke kamar pertama, kamar 1001.

Rangkaian tugas ini terus berjalan seperti itu, dari hari ke hari, bulan ke bulan,tahun demi tahun. Pekerjaan semaca ini jelas merupakan pekerjaan monoton, tanpa variasi dan membosankan! Saya sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin Pak Lim masih bisa cermat dan teliti mengecek setiap engsel pintu dalam menjalani tugas yang membosankan ini. saya membayangkan, seandainya
saya sendiri yang diminta melakukan hal semacam ini, mungkin saya akan memeriksa setiap engsel sekedarnya saja.

Karena sangat penasaran, suatu hari saya bertanya kepada Pak Lim apa yang sebenarnya membuatnya begitu tekun menjalani pekerjaan rutin itu. Jawabannya sungguh diluar dugaan saya. Dia mengatakan,” James, dari pertanyaan Anda, saya bisa menyimpulkan bahwa Anda tidak mengerti pekerjaan saya. Pekerjaan saya bukan sekedar memeriksa engsel, tetapi lebih dari itu.
Begini. Tamu-tamu kami di hotel berbintang lima ini jelas bukan orang sembarangan. Mereka biasanya adalah Kepala Keluarga, CEO sebuah perusahaan, Direktur atau Manajer Senior. Dan saya tahu mereka semua jelas bertanggung jawab atas kehidupan keluarga mereka, dan juga banyak karyawan dibawahnya yang jumlahnya mungkin 20 orang, 100 atau bahkan ribuan orang.

“Nah, kalau sesuatu yang buruk terjadi di hotel ini, misalnya saja kebakaran dan pintu tidak bisa dibuka karena engselnya rusak, mereka bisa meninggal di dalam kamar. Akibatnya bisa Anda bayangkan, pasti sangat mengerikan, bukan hanya untuk reputasi hotel ini, tetapi juga bagi keluarga mereka, karyawan yang berada di bawah tanggungan mereka. Keluarga mereka akan kehilangan sosok Kepala Keluarga yang menafkahi mereka dan karyawan mereka akan kehilangan sorang pimpinan senior yang bisa jadi mengganggu kelancaran perusahaan. Sekarang Anda mungkin dapat mengerti bahwa tugas saya bukan sekedar memeriksa engsel, tapi menyelamatkan Kepala Keluarga dan Pimpinan unit bisnis sebuah perusahaan. Jadi, jangan meremehkan tugas saya.”

Saya benar-benar terperangah mendengar penjelasan panjang lebar Pak Lim. Dari situlah saya mengerti bahwa jika seseorang tahu benar makna dibalik pekerjaannya, dia akan melakukan pekerjaannya dengan bangga, dengan senang hati, dengan penuh tanggung jawab. Sebaliknya, seandainya saja Pak Lim tidak mengerti makna pekerjaannya, dia akan mengatakan bahwa tugasnya hanya sebagai tukang periksa engsel.

Sekarang, coba tanyakan pada diri sendiri. Apakah anda tahu benar makna di balik pekerjaan Anda? Katakanlah Anda adalah seorang Staff, Kepala Bagian, Manajer unit bisnis, apakah Anda tahu makna dibalik pekerjaan anda sebagai seorang Staff, Kepala Bagian atau Manajer?

Ingatlah bahwa jika seorang tahu makna pekerjaannya, dia pasti akan melakukan pekerjaan dengan rasa bangga, dan yang terpenting, dia akan membuat pekerjaannya penuh arti, bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi perusahaannya.

Posted in Motivation | 1 Comment »

Supervisor yang terbuai

Posted by Aji Monoarfa pada Juli 5, 2007

Suatu kali seorang supervisor menyapa saya yang sedang asik cari informasi di internet mengenai penyedia layanan database tenaga kerja, “Lagi apa mas…?, kayanya sibuk nih….?” Sapanya. “Ah…biasa saja, saya sedang cari informasi tentang layanan database tenaga kerja… untuk pemenuhan kebutuhan divisi kita, khususnya posisi sales yang turn over nya sangat tinggi…, pemenuhan kebutuhan kemarin…” canda saya.

Setelah basa-basi yang akhirnya pasti basi…, sang supervisor membuka pembicaraan tentang adanya kesempatan untuk menduduki posisi manager yang ditawarkan oleh seorang kepala cabang. Wah..siapa yang bisa nolak kalau ada posisi diatasnya ditawarkan kepada kita, naluri seorang pekerja menganggap ini adalah suatu kesempatan untuk mengaktualisasikan diri lebih jauh lagi dan tantangan untuk membuktikan kemampuan memimpin bagian dari organisasi yang lebih besar, selain tentunya jenjang karir yang semakin baik.

Sebagai seorang pekerja SDM, kerennya orang HRD, Human Resource & Development. Ada lagi yang menyebutnya Hire and Resign Departement 🙂 …, melihat hal ini adalah hal yang biasa terjadi dalam organisasi dan saya sangat mendorong agar sang supervisor ini bisa mendapatkan posisi ini, tentunya setelah semua pihak menyetujui. Namun, kendala yang dihadapi sang supervisor adalah atasannya tidak merestui kepindahaan ini dengan alasan masih memerlukan sang supervisor dengan segala macam alasannya dan menghibur dengan rencana akan mendevelop sang supervisor untuk posisi managerial sebagai penggantinya yang nota bene memang dalam 3 tahun kedepan akan pensiun.

Setelah diskusi cukup panjang mengenai aktivitas pekerjaan sang supervisor dan organisasinya, saya melihat bahwa sebenarnya restu atau tidak restunya seorang atasan untuk melepaskan bawahannya yang potensial ketempat lain lebih dikarenakan adanya ketergantungan seorang atasan pada bawahannya dalam melaksanakan pekerjaan, terlebih kalau pekerjaan tersebut sifatnya fire fighting. Terlepas dari peran seorang atasan untuk dapat mengusung bawahannya ke posisi yang lebih baik (menjalankan fungsi people development), ketidaksiapan atasan ini sangat beralasan untuk tidak melepasnya segera atau bahkan tidak sama sekali meskipun hal ini sangat diharapkan oleh seorang bawahan untuk mengembangkan karirnya dalam organisasi.

Mengapa hal ini terjadi…? Dan faktanya cukup banyak hal ini terjadi, apalagi kalau bawahan tersebut merupakan “orang kepercayaannya” dan tuntutan profesionalisme (rasa tanggung jawab) yang tidak menyarankan kita pindah dengan menutup mata terhadap posisi yang kita tinggalkan tanpa seorang suksesor (meskipun ini menjadi tanggung jawab atasan juga).

Dilihat dari sisi bawahan, hal ini terjadi karena seorang bawahan TERLENA dengan ritme dan suasana kerja dalam mencapai target yang ditetapkan oleh organisasi,saking asiknya dan terlenanya, kita tidak pernah berpikir sekiranya ada kesempatan atau tawaran dari pihak lain, apakah posisi kita bisa ditinggal begitu saja dan organisasi menjamin transfer knowledge bisa berjalan dengan mekanisme yang ada…?. Kalau jawabannya tidak, maka peran proaktif kita sangat besar menentukan kesempatan atas tawaran itu bisa disetujui oleh atasan dengan cara menyiapkan segala instrumen dalam bentuk knowledge management dan akan lebih baik lagi jika memiliki suksesor.

Kesimpulannya, menjadi orang yang tak tergantikan dalam organisasi juga dapat berdampak buruk dalam hal merespon kesempatan atau tawaran ke posisi lain yang lebih tinggi di dalam organisasi yang sama, selain itu kita juga tidak pernah tau kapan kesempatan atau tawaran diatas itu menghampiri kita. Yang pasti…jangan sampai kita dibangunkan dari keterlenaan oleh kesempatan atau tawaran yang tiba-tiba ada didepan mata, khususnya kesempatan atau tawaran di dalam organisasi yang sama.

Wake up guys….!!! Please share your comment or idea on how to solve this case in your organization. Feel free and this article is only a represent of my thought and release “unek-unek” that may be not suit to others, but at least could be reference to prepare anything to be better.

Posted in My Thoughts | Leave a Comment »

Think Your Way to Success

Posted by Aji Monoarfa pada Juli 4, 2007

One issue that our subconscious has is that it cannot process negative thoughts. In other words if I were to say to you now…

“Don’t think of a blue duck”

What do you think of? That’s right…

A blue duck.

We commonly make this very mistake with children. Let’s say they have a glass of milk and we say, “Don’t spill that milk.” What happens next?

Of course, in order to think of not spilling the milk they have to first think of spilling it. That’s the exact same time that your carpet gets ruined!

If one small statement like this can have an impact, imagine what happens when we have months or even years of conditioning. Once we realise that our subconscious cannot differentiate between a negative and positive statement it becomes clear why we tend to fail with the goals we set ourselves.

Picture the person that decides to lose weight, every time they look in the mirror they think ‘fat, fat, fat’. Each time they open the fridge they think ‘don’t eat this, don’t eat that.’ Their subconscious is only hearing fat, fat, fat as if that is the way things should be and if it’s receiving a message of ‘don’t eat’ and it can’t process negative thoughts, what is the message it’s getting?

…Eat, exactly. So with this one typical example we realise how our desire to get fit can become an exercise in getting bigger.

You may not even realise it when you use negatives words and phrases. Regardless, if you use them enough, they can condition you to think negatively, too. Before you know it, little negatives will clutter up your mind, as well as your conversation.

You now know that our subconscious needs positives to work on and if you want positive outcomes, then you must…

FOCUS ON WHAT YOU WANT, NOT WHAT YOU DON’T

Posted in Motivation | Leave a Comment »